lapar puasa
Paradoksial di sekitar kita
Salah satu tulisan Pak Nuh, Menkominfo RI, yang selalu saya ingat adalah tema tentang paradoksial. Sesuatu yang bertentangan tetapi ada dalam satu kejadian yang sama. Contoh gamblang yang disampaikan Pak Nuh adalah soal lab, laboratorium. Di dalam lab, khususnya di almamater beliau, ITS Surabaya, terdapat barang-barang dan peralatan yang mahal. Dalam 1 lab, nilai asset nya bisa mencapai milyaran rupiah. Tapi pernahkah kita memperhatikan system keamanan lab itu? Sebuah lab, yang di dalamnya terdapat asset mliyaran rupiah, pintunya ‘diamankan” dengan sebuah “gembok”. Ya sebuah gembok. Atau ada beberapa lab yang memakai dua gembok. Sungguh paradok, karena ‘harga” sebuah gembok, saya yakin “hanya” beberapa puluh ribu. Sangat paradoksial, “harta” milyaran rupiah di dalam lab, hanya diaman kan dengan beberapa puluh ribu.
*
Di akhir Romadlon(tulisannya bener gak ya???) 1430H ini, banyak kita jumpai paradoksial di sekitar kita. Bahkan mungkin kita sendiri yang melakukannya. Karena sudah menjadi tradisi lebaran, kita sibuk mempersipakan dan menyamput Lebaran. Ada yang dengan pakaian, ada yang mempersiapkan kue atau menyiapkan uang ‘receh” untuk di bagi keponakan. Disaat yang sama, terdapat sodara sebangsa kita yang “mendapat” bencana kelaparan di Yahukimo. Saya juga heran koq tidak ada media yang mengekspos? Padahal kalo saja ini musim kampanye, pasti bias di jadikan “jualan” untuk mengkritik pemerintah. Gaung kelaparan di Yahukimo masih kalah dengan berita soal arus mudik, banyaknya peneyedia jasa penukaran uang “receh”, atau soal biaya pelantikan Anggota DPR dan DPD terpilih yang mencapai milyaran rupiah. Saya jadi ingat guyonan bang ruhut di salah satu tv nasioanal, uang segitu kalo di belikan kerupuk dapat berapa ya? Apalagi kalo dibuat beli cincau, bisa banjir tuh Jawa. Ini bukan guyonan garing, tapi kelaparan di Yahukimo sudah “memakan” 39 nyawa.
*
Jadi ingat lagu teman-teman pengamen.
“ itulah Indonesia…”
Di satu sisi pemerintah buang-buang uang milyaran hanya untuk “pelantikan”, di saat yang lain nyawa melayang karena kelaparan. Puasa ini jadi lapar atau gak ya? Seharusnya nilai dan semangat puasa bisa terpancar dalam perilaku kehidupan kita( tentunya juga pemerinta,red).
Oke teman-teman, puasa tinggal beberapa hari. Saya yakin semua pasti sibuk. Sibuk packing, sibuk cari tiket, sibuk nyiapin parcel, sibuk beli baju…. Pokoknya “sibuk”.
Semoga kesibukan kita tidak melupakan esensi puasa kita…
